Ilmu Alamiah Dasar

1.    PENGERTIAN ILMU ALAMIAH DASAR (IAD)
 Ilmu alamiah dasar (IAD) sering disebut ilmu pengetahuan alam (IPA)dan ada yang menyebut ilmu kealaman yang dalam bahasa inggris disebut Natural science atau science.  Kata tersebut dalam bahasa Indonesia disebut Sains. Maskoeri Yasin dalam bukunya mendefinisikan ilmu alamiah dasar (IAD) adalah “ilmu pengetahuan yang mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta ini , terasuk bumi yang terbentuk dengan menggunakan konsep dan prinsip ilmu dasar”. Jadi singkatan ilmu alamiah dasar (IAD) adalah ilmu yang mengkaji konsep-konsep dan prinsip dasar yang esensial saja. Beberapa disiplin-disiplin ilmu yang tergolong ilmu alamiah dasar (IAD) adalah fisika, kimia, astronomi, geologi, meteorologi, serta biologi.

2.      PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA
Perkembangan alam pikiran manusia dapat ditinjau dari 2 aspek:
a.       Aspek jaman (jaman purba sampai sekarang)
·         Sejak jaman purba, manusia menghadapi berbagai masalah→ rasa ingin tahu utk memecahkan masalah, juga tentang fenomena2 yang ada (gempa bumi, gunung meletus, gerhana matahari, dll) → menghasilkan banyak jawaban, tetapi kemudian muncul masalah-masalah baru=> alam pikiran manusia berkembang terus sampai sekarang.
·         Berkembang melalui penelitian sendiri, bertanya pada orang lain, dari mulut ke mulut→ alam pikiran berkembang.
·         Pengetahuan ini terkumpul dan diwariskan dr generasi ke generasi (bahasa sebagai alat komunikasinya).
b.      Aspek Kehidupan Manusia (bayi sampai akhir hayat)
·         Alam pikiran bayi dari hari ke hari akan mengalami perkembangan (dari mengamati lingkungan) => dengan menyelidiki sendiri atau bertanya pada orang2 di sekitarnya.
·         Rasa ingin tahu anak melemah jika orang-orang di sekitarnya malas menjawab rasa keingintahuan si anak→ perkembangan alam pikiran anak terhambat.
·         Perkembangan alam pikiran dapat disebabkan karena rangsangan dari luar (tanpa dorongan dari dalam/rasa ingin tahu); misalnya orang yang tinggal di daerah banjir.
·         Alam pikiran juga bisa berkembang karena keterpaksaan, misalnya mendengarkan ceramah yang tidak kita minati => berdampak positif dan negative.
·         Tetapi, alam pikiran manusia berkembang dengan cepat dan baik terutama karena rasa ingin tahu (dorongan dari dalam).

3.      PENGERTIAN MITOS, LEGENDA DAN CERITA RAKYAT
a.      Mitos
Mitos atau disebut juga dengan Mite merupakan cerita prosa rakyat yang bercerita suatu kisah yang mempunyai latar belakang di masa lampau, berisikan penafsiran mengenai alam semesta dan adanya makhluk di dalamnya, serta dipercaya benar terjadi oleh yang menganutnya atau sang empunya.
Contoh cerita:
Rawa Pening
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang sakti. Kesaktiannya ini membuat seorang menyihir jahat iri. Penyihir jahat menyihir anak itu, sehingga tubuhnya penuh luka dengan bau yang sangat menyengat. Luka-luka baru akan muncul begitu luka lama mulai kering. Keadaannya kondisi tubuhnya itu, tidak ada seorang pun yang mau berhubungan dengannya. Jangankan bertegur sapa, berdekatan saja orang tidak mau. Mereka takut tertular.
Suatu hari, anak ini bermimpi ada seorang perempuan tua yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ia pun berkelana mencari perempuan tua dalam mimpinya tersebut. Di setiap kampung yang ia datangi, ia selalu ditolak oleh penduduk. Mereka merasa jijik dan mengusir anak ini.
Akhirnya, sampailah ia di sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang sombong. Tidak banyak orang yang miskin di desa itu. Mereka akan diusir atau dibuat tidak nyaman kalau tinggal di sana. Hal ini mengusik hati anak kecil ini.
Pada sebuah pesta yang diselenggarakan di kampung itu, anak kecil ini berhasil masuk. Namun, orang-orang segera mengusirnya dan mencaci-makinya. Ia langsung diseret keluar.
Pada saat terseret, ia berpesan kepada orang-orang itu supaya lebih memerhatikan orang tak punya. Mendengar kata-kata anak itu, beberapa orang makin marah, bahkan meludahinya sambil berkata, "Dasar anak setan, anak buruk rupa!"
Anak itu merasa terluka dengan perlakuan orang-orang tersebut. Lalu, ia menancapkan sebuah lidi di tanah don berkata, "Tak ada satu pun yang bisa mencabut lidi ini dari tanah, hanya aku yang bisa melakukannya!"
Orang-orang meragukan ucapan anak tersebut. Mereka pun mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, tak seorangpun dapat melakukannya. Dalam beberapa hari, lidi itu tak bisa tercabut. Suatu hari, secara diam-diam, anak itu datang don mencabut lidi itu. Tanpa sepengetahuannya, ada seorang warga yang melihatnya dan melaporkannya kepada warga yang lain.
Dari tempat lidi itu dicabut, mengalirlah mata air. Semakin lama, air itu semakin deras. Air menenggelamkan daerah tersebut, sehingga menjadi sebuah telaga yang kini bernama Telaga Rawa Pening.
Tidak ada yang selamat dari musibah itu kecuali seorang perempuan tua yang berbaik hati memberinya tempat tinggal dan merawatnya. Secara ajaib penyakit kulit anak itu sembuh.
Namun, penyihir jahat yang telah menyihir si anak itu tidak terima dengan kesembuhan itu. Kemudian, ia menyihir anak itu menjadi seekor ular besar dengan sebuah kalung genta di lehernya.
Konon, ular ini sering keluar dari sarangnya pada tengah malam. Setiap kali bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi klentang-klenting. Bunyi inilah yang kemudian membuatnya dinamakan Baru Klinting.
Kemunculan ular itu diyakinin masyarakat sebagai tando keberuntungan bagi nelayan nelayan yang tidak mendapat ikan.
Kini, Telaga Rama Pening adalah objek wisata yang sangat populer di Jawa Tengah. Tempat ini terletak di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa.
Ø  Pesan Moral: hargai orang lain dan jangan saling membenci. Jangan pernah hanya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Apa yang terlihat menarik bisa saja buruk untuk kita begitu juga sebaliknya, apa yang kita tidak suka bisa saja bermanfaat untuk kita.

b.      Legenda
Legenda merupakan yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Legenda biasa dianggap sebagai sejarah kolektif. Meskipun, karena tidak tertulis maka kisah tersebut mengalami distorsi sehingga sering jauh berbeda dengan kisah aslinya.
Contoh cerita:
Legenda Ular Kepala Tujuh
Zaman dulu, berdirilah sebuah kerajaan di daerah Bengkulu. Namanya Kerajaan Kutei Rukam. Sang raja adalah Raja Bikau Bermano.
Raja Bikau memiliki delapan putra. Suatu ketika, Raja Bikau hendak menikahkan salah satu putranya yaitu Gajah Meram. Gajah Meram akan menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri. Putri tersebut bernama Putri Jinggai.
Sebelum menikah, keduanya harus melakukan upacara adat. Upacara berlangsung di sebuah pemandian. Namun, suatu keanehan terjadi. Gajah Meram dan Putri Jinggai mendadak lenyap.
Raja Bikau dan permaisuri bingung. Mereka bertanya ke sana kemari. Namun taka da seorang pun yang tahu.raja Bikau segera menyuruh seluruh pengawal dan keluarganya berkumpul. Pada mereka, Raja Bikau bertanya.
“Putri Jinggai dan Gajah Meram lenyap. Adakah yang tahu ke mana mereka pergi?”
Suasana jadi heninh. Beberapa saat kemudian, seorang kerabat Putri Jinggai angkat tangan “Maaf, Paduka. Sepertinya Putri Jinggan dan Gajah Meram diculik Raja Ular yang tinggal di Danau Tes,” katanya.
“Danau Tes? Hmmm. Bagaimana caranya ke sana? Siapakah yang sanggup membebaskan mereka?” tanya Raja Bikau
Semua orang kembali terdiam. Lalu salah satu putra Raja Bikau angkat tangan. Dialah Gajak Merik.
“Ayahanda, izinkan saya membebaskan mereka,” katanya mantap.
Raja Bikau terkejut. Gajah Merik baru berusia 13 tahun. Raja Bikau khawatir putranya justru akan dimakan Raja Ular.
“Percayalah. Saya yakin bisa melakukannya,” ujar Gajah Merik meyakinkan ayahandanya.
Akhirnya, Raja Bikau mengizinkannya. Raja Merik pun berangkat ke Tepat Topes untuk bertapa. Ia bertapa selama tujuh hari tujuh malam. Hasilnya, ia mendapatkan sebilah keris dan seutas selendang. Kerisnya bisa digunakan untuk berjalaan di atas air tanpa harus menyelam. Sementara selendangnya bisa berubah menjadi pedang.
Lepas bertapa, Raja Merik hendak pulang terlebih dahulu. Namun, saat melewati Danau Tes, ia berubah pikiran.
“Lebih baik aku menyelamatkan kakakku dan Putri Jinggai terlebih daahulu,” pikirannya.
Maka menyelamlah Gajah Merik  sampai ke dasar danau. Ia menemukan gua besar. Gajah Merik mendekati gua tersebut.
Tahu-tahu, sepasang ular raksasa menghadangnya. Gajah Merik melawan kedua ular itu dengan gagah berani. Ular tersebut berhasil dikalahkan.
Gajah Merik pun terus memasuki gua. Namun, di setiap Lorong berpintu, ia selalu saja dihadang dua ular raksasa. Lagi-lagi, Gajah Merik bertarung. Untungnya, dia selalu menang.
Gajah Merik tetap berjalan memasuki gua. Kini, ia tiba di pintu Lorong ketujuh. Di sanalah ia mendengar sebuah desisan dan tawa keras.
“Hahaha! Ada anak muda berani dating kemari.” Suara itu berkata.
Gajah Merik tidak takut. “Hai, Raja Ular. Keluarlah dari tempat persembunyianmu. Lawanlah aku,” tantang Gajah Merik.
Raja Uar merasa diremehkan pemuda ingusan. Raja Ular pun keluar. Ternyata Raja Ular adalah sosok ular raksasa berkepala tujuh.
“Aku akan menyerahkan kakakmu dan Putri Jinggai. Asal kau mematuhi syarat yang kuberikan,” kata Raja Ular.
“Baik,” jawab Gajah Merik tegas.
“Pertama. Kau harus menghidupkan para ular pengawal yang sudah kau kalahkan. Kedua, kau harus mengalahkanku.”
Gajah Merik melakukan permintaan Raja Ular. Ia menyembuhkan para ilar-ular penjaga di tiap pintu gua. Lalu ia bertempur melawan Raja Ular. Gajah Merik berhasil memenangkanpertempuran. Raja Ular menepati janjinya. Ia menyerahkan Putri Jinggai dan Gajah Meram.
Gajah Merik membawa Putri Jinggai dan kakaknya ke istana. Ia disambut dengan meriah. Kerajaan sampai mengadakan pesta besar-besaran. Raja Bikau bangga dengan keberanian putranya.
Setelah dewasa, Gajah Merik dinobatkan menjadi raja. Ia menggantikan posisi Raja Bikau. Tak lupa pula, Gajah Merik mengajak Raja Ular dan para pengikutnya. Mereka dijadikan pengawal di istana Kerajaan Kutei Rukam.
Ø  Pesan Moral: Keberanian bisa menaklukan berbagai rintangan.

c.       Cerita Rakyat
Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas disetiap bangsa yang mempunyai kultur budaya yang beraneka ragam yang mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki masing-masing bangsa. Pada umumnya cerita rakyat ini mengisahkan mengenai suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia dan dewa.
Contoh cerita:
Putri Pinang Gading
      Dulu, terdapat sebuah desa bernama Desa Kelekak Nangkak. di desa ini, hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak. Mereka hidup sederhana. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah menanam padi dan menangkap ikan.
      Suatu ketika, sang suami pergi ke laut. Di pantai, ia tersandung pohon bamboo. Mereka gemas, dibuangnya bambu itu ke laut. Ia kembali berjalan. Namun…
      “Aduh! Lho? Bambu yang ini lagi? Ya sudah. Aku bawa pulang saja,” katanya.
      Begitu sampai di rumah, di letakkan bambu itu di dalam rumah. Ia duduk beristirahat dan mengobrol dengan istrinya. Tiba-tiba…
      Duarrr!
      Terdengar letusan keras dari dalam rumah. Tergopoh-gopoh suami istri itu masuk. Seketika mereka terkejut. Bambu di meja telah lenyap. Sebagai gantinya, tergeletak seorang bayi perempuan. Bayi itu cantik sekali.
      “Astaga bayi itu sunggu menawan,” kata sang Istri.
      Digendongnya bayi cantik itu penuh kasih saying. Sang suami juga takjub melihat kecantikan si bayi. Namun, ia heran.
      “Bayi siapakah itu?” tanyanya pada sang Istri.
      “Entahlah. Mungkin ini bayi yang dikirim oleh Sang Pencipta untuk kita,” sahut sang Istri.
      “Kita angkat saja dia jadi anak,” usul sang Suami.
      “Tentu saja. Aku akan memberi nama anak ini, Putri Pinang Gading,” jawab sang Istri.
      Demikianlah, akhirnya suami istri itu punya anak perempuan. Putri Pinang Gading tumbuh menjadi gadis yang cantik sekali. Orang tuanya sangat sayang padanya. Namun, mereka tidak memanjakan sang Putri.
      Putri Pinang Gading diajari menangkap ikan. Ia juga diajari menanam padi. Tak lupa pula ia diajari menanam oleh ayahnya. Putri Pinang Gading tak seperti gadis pada umumnya. Ia adalah gadis pemberani.
      Suatu ketika, sebuah kabar seram sampai ke desa itu. Salah satu penduduk bercerita saat menangkap ikan. Bahwa ada burung besar tengah menyerang desa sebelah. Desa itu adalah Desa Kelekak Remban.
      “Burung Gerude itu ganas sekali. Tak ada penduduk yang berani keluar rumah. semua orang di kampung sebelah ketakutan,” cerita penduduk itu.
      “Wah, berarti sebentar lagi burung gerude akan menyerang desa kita?” tanya ayah Putri Pinang Gading.
      “Bisa saja demikian.” Penduduk yang lain menjawab.
      Sepulang dari laut, ayah sang Putri bercerita. Mendengar cerita tersebut sang Istri jadi panik. Ia mendekap Putri Pinang Gading berkali-kali.
      “Kita harus lari ke desa yang aman. Jangan sampai burung itu menyerang keluarga kita,” usul ibu sang Putri.
      “Tenang, Bu. Jangan cemas. Aku akan berangkat ke desa sebelah. Akan kulawan burung gerude itu,” tegas Putri Pinang Gading.
      “Wah! Jangan, Nak! Ayah khawatir kau akan celaka!” kata sang ayah.
      “Ayah, percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja. Burung itu akan kukalahkan. Lihat saja nanti,” kata sang Putri percaya diri.
      Esok hari, berangkatlah Putri Pinang Gading ke Desa Kelekak Remban. Ayahnya membekali busur dan anak panah. Tak lupa pula, Putri Pinang Gading meracuni seluruh anak panahnya. Setelah minta restu dan pamit, sang Putri berangkat.
      Tiba di Desa Kelekak Remban, sang Putri bersembunyi. Ia menunggu-nunggu kehadiran burung gerude. Pada malam hari, burung itu muncul. Burung gerude sungguh besar. Ia berputar-putar di atas rumah-rumah penduduk untuk mencari mangsa.
      Putri Pinang Gading memasang anak panahnya. Ia bersiap membidik. Saasarannya adalah dada burung gerude. Setelah mengambil napas, Putri Pinang Gading memanah burung gerude.
      Wuss!
      Anak panah melesat tepat mengenai dada burung gerude. Burung gerude jatuh berdebam ke tanah. Desa Kelekak Nangsa dan Kelekak Ramban kembali aman.
      Menurut cerita, tempat jatuhnya berubah menjadi tujuh anak sungai.
Ø  Pesan Moral: Yakinlah pada kekuatan yang dimiliki diri sendiri akan membuat                   kalian percaya diri dan bersemangat.








Sumber:
Nufus, Hayatun.2013. cerita rakyat popular 34 provinsi. Jagakarsa Jakarta Selatan.sarang baca

Comments