Manusia dan Tanggung Jawab IBD
BAB
9
MANUSIA
DAN TANGGUNG JAWAB
A.
PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
Tanggung
jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung
segala sesuatunya.cSehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa
Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala
sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
Tanggung
jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang
disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Seorang
mahasiswa mempunyai kewajiban belajar. Bila belajar, maka hal itu berarti ia
telah memenuhi kewajibannya. Berarti pula ia telah bertanggung jawab atas
kewajibannya. Sudah tentu bagaimana kegiatan belajar si mahasiswa, itulah kadar
pertanggung jawabannya. Bila pada ujian ia mendapat nilai A, B atau C itulah
kadar pertanggung- jawabannya.
Bila
si mahasiswa malas belajar, dan ia sadar akan hal itu. Tetapi ia tetap tidak
mau belajar dengan alasan capek, segan dan lain-lain. Padahal ia menghadapi
ujian.Ini berarti bahwa si mahasiswa tidak memenuhi kewajibannya, berarti pula ia
tidak bertanggung jawab.
Berikut
ini diberikan penggambaran bagaimana suatu tanggung jawab diberikan oleh dua
orang yang kualitas tanggung jawabnya berbeda.
Widodo
ialah seorang pegawai yang tekun dalam melaksanakan tugasnya. Ia datang sebelum
waktu kerja dimulai. Tanpa banyak bicara dikerjakan tugasnya. Setelah selesai
tugas yang dikerjakan, ia memberikan hasil pekerjaannya kepada atasannya
sebagai pertanggungjawabannya. Ia pun tidak banyak hilir mudik dikantomya untuk
persoalan kepentingannya sendiri, seperti buang air, mencari inakanan atau
minuman. Ia pun pulang pada waktu jam kantomya usai.Bila ada pertanyaan dari
atasannya tentang pekerjaan yang dilakukan, ia pun memberikan jawaban secara
baik dan pasti. Ia dapat memberikan pertanggungjawaban atas tugas-tugas yang
diberikan kepadanya, sehingga konduitenya baik, naik pangkat pada waktunya, dan
memperoleh penghargaan khusus waktu tertentu. Berbeda dengan Hudiyanto yang
datangnya terlambat dan pulangnya sering lebih cepat. Sementara waktu kerja ada
saja kepentingan pribadinya yang lebih dulu dikerjakan daripada kepentingan
kantor, sehingga pekerjaan yang diserahkan kepadanya sering tidak selesai pada
waktunya,itu pun masih banyak kekurangan atau kesalahan yang
terdapat didalamnya. Bila
ia ditanya oleh atasannya, selalu ada saja yang dijawabnya. Yang rumahnya jauh,
istri atau anaknya sakit, ada urusan keluarga, ada famili yang meninggal.
Karena itu kenaikan pangkat dan gajinya sering ditunda, dan ada gejala ia akan
dipindahkan ke tempat lain yang sifatnya hukuman. Hudiyanto bukan orang yang
bisa dan mau bertanggung jawab, melainkan ia hanya bisa tanggung menjawab saja.
Seseorang
mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas
segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya
tanggung jawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam
lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan
terhadap alam lingkungannya. Manusia menciptakan keseimbangan, keserasian,
keselarasan antara sesama manusia dan antara manusia dan lingkungan.
Tanggung
jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia,
bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau
bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu.
Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi
pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi si pembuat
ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula
yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Dari sisi pihak lain, apabila si
pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik
dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.
Apabila
dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau
dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat
dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak
lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat
sendiri, atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara
sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu
dipelihara dengan baik.
Tanggung
jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab
karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula
bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh
atav meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan,
penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa .
B.
MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
Manusia
itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain.
Untuk itu ia manghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi
lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menuadari bahwa ada kekuatan
lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan demikian tanggung jawab
itu dapat dibedakan menunut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas
dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :
(a) Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggug
jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap Orang untuk memenuhi
kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya
sendiri Menurut sifat dasamya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia
juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi maka manusia mempunyai
pendapat sendiri, perasaan sendiri angan-angan sendiri. Sebagai perwujudan dari
pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal
ini manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang disengaja maupun
tidak.
Contoh
: Rudi membaca sambil berjalan.
Meskipun sebentar-sebentar ia melihat jalan, tetap juga ia lengah, dan terperosok
ke sebuah lobang. kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya sendiri akan kejadian
itu. Ia harus beristirahat dirumah beberapa hari. Konsekwensi tinggal di rumah
beberapa hari merupakan tanggung jawab sendiri akan kelengahannya.
(b) Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga
merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan
anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini
menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan
kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh
: Seorang ibu telah dikarunia
tiga anak, kemudian oleh sesuatu sebab suaminya meninggal dunia, karena ia
tidak mempunyai pekerjaan/tidak bekerja pada waktu suaminya masih hidup maka
demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri. Ditinjau dari
segi moral hal ini tidak bisa diterima karena melacurkan diri termasuk tindakan
di kutuk, tetapi dari segi tanggung jawab ia ~ termasuk orang yang dipuji,
karena demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia rela berkorban menjadi
manusia yang hina dan dikutuk.
(c) Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada
hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan
kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia
harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian
manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai mempunyai
tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan
hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan
perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Contoh
: Hanafi terlalu congkak dan
sombong, ia mengejek dan menghina pakaian pengantin adat Minangkabau. Ia tidak memakai
pakaian itu, bahkan penutup kepala yang dikeramatkan pun semula ditolak. Tetapi
setelah ada ancaman dari pihak pengiring, terpaksa Hanafi mau memakainya juga.
Di dalam peralatan itu hampir-hampir pemikahan dibatalkan, karena timbul
perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan pihak kaum laki-laki.
Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata pakaian mempelai yang masih sekarang
dilazimkan di negerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya cara
anak komedi Istambul. Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah urung sahaja,
demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga
pihaknya sendiri akhimya diterimalah, bahwa ia memakai smoking, yaitu jas
hitam, celana hitam, dengan berompi dan berdasi putih. Tetapi waktu hendak
menutup kepalanya, sudah berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian
dester suluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalipun perempuan
meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu, yaitu selama
beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia nanti memakai
sekehendak hatinya pula. Hanafi tetap menolak kehendak orang tua, ia tidak
hendak menutup kepala, karena lebih gila pula dari pada anak komidi, bila memakai
dester saluk dengan baju smoking dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang
sabamya dan memukul-mukul dada di muka anak yang “terpelajar” itu, barulah
Hanafi menurut kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan
badannya yang sudah “tergadai”’. Untunglah ia menurutkan hal menutup kepala
itu, karena sekalian pengantar dan pasumandan (pengiring bangsa perempuan)
sudah berkata bahwa mereka tak sudi mengiringkan “mempelai didong”’. Akhimya
Hanafi tunduk pula dengan norma-nomma yang berlaku dalam masyarakat, Meskipun
harus bersitegang dahulu. Sebagai pertanggungjawaban kecongkakan dan
kesombongannya itu, Hanafi harus menerima rasa antipati dari masyarakat
Minangkabau yang sangat ketat terhadap adat itu (salah asuhan)
(d) Tanggung jawab kepada Bangsa / Negara
Suatu
kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu
negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat
oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak
dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus
bertanggung jawab kepada negara.
Contoh
: 1) Dalam
novel jalan tak ada ujung karya Muchtar Lubis, Guru Isa yang tekenal sebagai
guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya,
Perbuatan guru isa ini harus pula dipertanggungjawabkan kepada pemerintah.
kalau perbuataan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan
pengadilan.
2) Kumbakarna menolak perintah kakaknya, juga rajanya yaitu Rahwana
untuk berperang melawan rama, karena kakanya berbuat keburukan. Bukan main
Rahwana. Ta membangkit-bangkitkan hutang budi Kumbakama terhadap kerajan
Alengka. Kumbakama menyadari kedudukannya sebagai panglima perang, karena itu
berangkat juga ia ke medan perang menghadapi Rama. Akan tetapi ia maju ke medan
perang bukan karena membela kakanya, melainkan karena rasa tanggung jawabnya
sebagai panglima yang harus membela negara ( Ramayana)
(e) Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan
menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk
mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan.
Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang
dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari
hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan
peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan
melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah- perintah Tuhan berarti
mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap
Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia
perlu pengorbanan.
Contoh
: Seorang biarawati dengan ikhlas
tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai
dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya, hal ini dilakukan agar ia dapat sepenuhnya
mengabdikan diri kepada Tuhan demi rasa tanggung jawabnya. Dalam rangka
memenuhi tanggung jawab ini ia berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada
umumnya yang seharusnya meneruskan keturunannya, yang sebetulnya juga merupakan
sebagian tanggung jawabnya sebagai mahluk Tuhan.
C.
PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
Wujud
tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan
pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
(a). Pengabdian
Pengabdian
adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai
perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua
itu dilakukan dengan ikhlas.
Pengabdian
itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras
sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada
keluarga.
Lain
halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan, mungkin sampai berhari-hari
itu bukan pengabdian, tcetapi hanya bantuan saja.
Berikut
ini diberikan gambaran, bagaimana orang tua mengabdi kepada putra-putrinya demi
kebahagiaan keluarga mereka.
Sepasang
suami istri guru sekolah dasar di sebuah desa. Anaknya cukup banyak, yaitu 6
orang. Untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga besar tesebut, si ibu tetap
bekerja sebagai guru, karena tahu bahwa gaji suaminya juga kecil. Si ibu di
rumah tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga, karena
memang tidak mampu membayar pembantu. Untuk urusan pendidikan di sekolah si
bapak yang bertanggung jawab, sedangkan si ibu untuk urusan pendidikan yang
bersangkutan dengan rumah tanggga. Si Bapak membimbing putra-putrinya dalam
belajar di rumah malam hari, scedangkan siang hari saling dengan praktek
biologi seperti menanam sayur, memelihara temak yang hasilnya langsung dapat
dimanfaatkan olch keluarga. Si ibu mengajar putra-putrinya memasak, mencuci
piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah. Anak-anaknya yang mulai besar
menjadi semacam asistennya. Setelah anak-anaknya mulai harus sckolah di kota,
mereka itu hanya disewakan kamar yang murah dengan harus memasak dan mencuci
sendiri yang sudah terlatih baik waktu di desa. Demikianlah maka kamar itu
makin banyak penghuninya oleh adik-adik yang juga menyusul kakak untuk belajar
di kota. Sekali seminggu scorang pulang untuk mengambil uang dan perbekalan di desa,
dan sekali sebulan ayah-ibu datang ke kota untuk tetap mengakrabkan hubungan
mereka sebagai keluarga, sekaligus mengontrol apakah anak-anaknya menjalankan
kewajibannya secara benar. Hal demikian juga dilakukan oleh keluarga itu waktu
anak terbesar harus masuk ke perguruan tinggi. Pada waktu si sulung sudah tamat
dan bekerja, ia pindah ke tempat kerjanya dan berfungsi sebagai donateur
terhadap adik-adiknya. Walhasil seluruh putra-putrickeluarga guru tersebut
dapat menamatkan sekolahnya dan menjadi sarjana. Sementara itu si bapak dan ibu
bertahan bekerja sebagai guru di desa demi mengabdi kepada putra-putrinya agar
dapat menjadi manusia yang hidupnya tidak sesulit dirinya. Waktu mereka sudah
pensiun, mereka merasakan bahwa pengabdiannya pada putra-putrinya juga sudah
cukup, mereka merasa puas karena mampu membekali putra-putrinya dengan ilmu
yang dijadikan kail dalam menempuh kehidupan ini. Orang tua itu tidak membekali
dengan ikan, karena akan cepat habis tanpa bekas !
Manusia
tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai
ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti
penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung
jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pengabdian
kepada agama atau kepada Tuhan terasa menonjolnya seperti yang dilakukan oleh
para biarawan dan biarawati. Pada umumnya mereka itu adalah orang-orang yang
terjun di ladang Tuhan karena kesadaran moralnya, karena panggilan Tuhan.
Mereka meningggalkan keluarganya dan tidak akan berkeluarga. Sehingga hampir
seluruh waktu waktu, pikiran, tenaga maupun kegiatan hanya tercurah untuk
memuliakan Tuhan. Dalam agama yang tidak membedakan manusia atas dasar ras
ataupun bangsa itu, para biarawan atau biarawati ditempatkan di daerah – daerah
yang jauh dan terpencil. Semuanya dilakukan dengan semboyan tugas suci. Selain
pada gereja Katolik, pada agama Budha juga dikenal biarawati atau biarawan
dengan sebutan bhiksu dan bhiksuni dengan cara kehidupan yang tidak jauh
berbeda.
Pengabdian
kepada negara dan bangsa yang juga menyolok antara lain dilakukan oleh pegawai
negeri yang bertugas menjaga mercu suar di pulau yang terpencil. Mereka bersama
keluarganya hidup terpencil terpencil dari masyarakat ramai, sementara itu
setiap hari tiupan angin kencang dari laut tidak pemah berhenti, apalagi bila
terjadi badai. Mereka bersunyi diri dalam mengabdikan diri demi keselamatan
kapal yang lalu lalang. Kesenangan yang dapat dirasakan oleh pegawai negri di
kota tidak dapat dirasakan, mungkin sekali-sekali bila mereka memperoleh cuti
tahunan. Kesenangan dan kegembiraan sesama pegawai negri haanya mereka
bayangkan secara terang di alam yang demikian sepi. Anak-anak mereka sulit
berkembang sebagai mahluk sosial, dan tebatas untuk dapat mengembangkan diri
akibat terpencilnya tempat tinggalnya. Dengan membandingkan mereka dan
kehidupan kawan-kawannya di kota atau di tempat yang lebih enak terasa arti
pengorbanan mereka demi keselamatan manusia lain, bangsa dan negara sendiri. Berapa
banyakkah orang yang mau dan mampu menghayati pengorbanan mereka itu.?
(b). Pengorbanan
Pengorbanan
berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehinggaa
pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian
pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak
mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang
tulus ikhlas semata-mata.
Pengorbanan
dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila
kita membaca atau mendengarkan kotbah agama. Dari kisah para tokoh agama atau
nabi, manusia memperoleh tauladan, bagaimana semestinya wajib berkorban.
Berikut ini diberikan dua buah penggambaran.
Pangeran
Sidharta Gautama dari Kapilawastu diharapkan oleh ayahnya untuk kemudian
menggantikan kedudukannya sebagai raja. Tetapi, Pangeran tersebut lebih tetarik
pada kehidupan pertapa untuk memperoleh penerangan agung bagaimana caranya
manusia dapat membebaskan dirinya dari sengsara (samsara) melalui pelepasan
(mokhsa) dan mencapai kehidupan abadi di sorga (nirvana). la mengorbankan
kehidupannya yang mewah duniawi dalam istana, ia mengorbankan kepentingan
keluarganya, karena memandang bahwa kepentingan umat manusia yang bodoh
(avidhya) perlu didahulukan. Usahanya berhasil memperoleh penerangan agung di
tempat pertapaan Bodh Gaya, yang kemudian disiarkan kepada umat manusia. Ia
rela mengorbankan duniawinya, keluarganya, demi kepentingan umat manusia yang
derajatnya lebih tinggi. Ia menjadi seorang Budha yang akhimya tidak dilahirkan
kembali dan menjadi pendiri agama Budha. Nabi Ibrahim mendapat perintah dari
Allah untuk mengorbankan putra tunggalnya Ismail. Walaupun ia sangat sayang
pada putranya tersebut, perintah Allah untuk mengorbankan tctap dipatuhinya.
Allah menguji kesetiaan dan besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim
tidak sampai hati melihat pisaunya dipotongkan ke Ieher putranya, tetapi ia
sudah bertekad setia menjalankan perintahNya. Kemudian terbukti, bahwa putra
yang mau dikorbankan kepada Allah sudah berganti dengan biri-biri. Pengorbanan
yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Allah lebih tinggi kadamya daripada
pengorbanan oleh nabi ibrahim sckarang yang ditiru oleh oleh umat Islam yang menjalankan
ibadah haji di Tanah Suci maupun umat Islam di wilayah lain dengan mengorbanan
temak untuk keperluan fakir miskin pada hari raya Idul Qurban.
Perbedaan
antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jclas. Karena adanya
pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan
pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya.
Tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.
Pengorbanan
merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda,
pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan
secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan
saja diperlukan.
Pengabdian
lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak
menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga,
biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan
belum tentu menuntut pengabdian.
Kesediaan
seorang guru sekolah dasar ditempatkan di pelosok terpencil daerah
transmigrasi, adalah pengabdian yang juga menuntut pengorbanan. Dikatakan
pengabdian karena ia mengajar di situ tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa
diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab
untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat / bangsanya. Ia hanya menerima
penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat. Pengorbanan yang ia
berikan berupa tenaga, pikiran, waktu untuk kepentingan anak didiknya.
Dalam
novel berjudul “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli, betapa besar pengorbanan gadis
Siti Nurbaya sebagai pengabdiannya kepada orang tua. Orang tua Siti Nurbaya
tidak mampu membayar hutang kepada Datuk Maringgih. Sebagai tebusannya, Siti
Nurbaya dibujuk agar bersedia kawin dengan Datuk Maringgih, si tua bangka,
walaupun sebenamya ia sudah mengikat janji dengan pemuda pujaannya bemama
Syamsul Bahri. Demi pengabdian kepada bapaknya , Siti Nurbaya bersedia
memutuskan hubungannya dengan Syamsul Bahri dan mau dikawinkan dengan Datuk Maringgih,
walaupun dengan perasaan yang sangat berat.
Sumber:
Comments
Post a Comment